
Di jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi, harusnya dua manusia itu sudah bersiap menuju kantor—atau bahkan sudah disibukkan oleh segudang urusan kantor, mengingat posisi dan padatnya jadwal mereka akhir-akhir ini.
Namun entah mengapa, keduanya malah masih asyik berkelana di mimpi masing-masing. Hingga sinar matahari yang mulai terik mencoba membangunkan dari balik gorden pun tidak lantas membuat keduanya terusik.
Cklek.
“Eh..”
Sampai kemudian para maid masuk untuk melakukan pekerjaannya, mendadak berhenti di tempat usai melihat sang tuan rumah yang masih terlelap dengan posisi tidak terduga; Pond duduk dengan dagu bertumpu pada tangan kiri, sementara Phuwin membungkuk, menjadikan punggung kedua telapak tangannya sebagai penopang dagu di atas meja.
Awalnya, ketiga wanita itu memang merasa kikuk melihat majikan mereka tertidur dengan posisi yang sedikit aneh. Namun jika diperhatikan lebih lama, pemandangan itu justru terlihat manis—bak adegan romantis dalam kisah cinta anak SMA.
“Ketiduran kah?”
“Kayaknya.”
“Bangunin gak ya?”
“Duh, jangan, kali ya?”
Pond itu sangat sensitif terhadap pergerakan atau suara—bahkan ketika dirinya sedang terlelap sekalipun. Alhasil, begitu mendengar suara bisikan, kedua matanya perlahan terbuka.
Dan harusnya, usai membuka mata, ia langsung mencari sumber suara, bukannya malah tercengang oleh pemandangan di depannya; sang suami tengah terlelap dengan begitu damainya.
Enggan membangunkan, Pond biarkan tubuhnya tetap diam, di saat matanya sibuk menelisik tiap pahatan wajah pria yang 5 tahun lebih muda darinya tersebut.
Ia begitu mengagumi Phuwin. Wajah, senyum, perilaku—ah, semua. Semua tentang Phuwin ia kagumi.
“Gak heran saya langsung jatuh cinta sama kamu, Phuwin...”
Yang ia kira bisikannya sudah sangat lirih, ternyata masih cukup keras untuk didengar, juga membangunkan si pemilik ruangan.
Menjadikan dua manik yang semula terpejam, kini terbuka lembut.